Selalu saja ada gaya bahasa penyesalan para pemilih Jokowi. Dari mulai ada yang mengecam, menghujat sampai ada yang menyatakan, "Lebih baik dulu pilih Prabowo.."
Mereka yang tak pilih Jokowi, wajar kecewa dan terus hadiahi kritik atas kinerja Jokowi yang tak terlihat merakyat. Walau tak jarang mendapat ejekan, gagal "move on" sampai di suruh pindah negara. Aneh, bukan?
Lalu, julukan apa yang tepat bagi pemilih/pendukung atau Jokower yang dulu begitu mati - matian perjuangkan Jokowi, sekarang malah hujat Jokowi. Apa di suruh pindah negara atau di bilang gagal "move on" juga, ya?
Ya, inilah fakta yang terjadi, walau masih ada sebagian masyarakat yang suka dengan Jokowi, namun tak bisa di tepis yang benci Jokowi jumlahnya semakin dan selalu bertambah.
Dari hasil pantauan
PekaNews berdasarkan berita online yang beredar, selalu ada saja pendukung Jokowi yang kecewa (baca: nyesal) karena pilih Jokowi, namun belum pernah ada di temukan kabar pemilih Prabowo nyesal karena pilih Prabowo.
Berikut ini informasi seorang aktivis yang katanya khilaf pilih Jokowi.
Laman
Fimadani mengabarkan, aktivis Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme (SEPILIS), Mohammad Monib, mengaku melakukan khilaf politik karena dalam pemilihan presiden 2014 lalu memilih dan mengkampanyekan pasangan Jokowi-JK. Hal itu disampaikannya pada 2 Maret 2015 kemarin, saat mengkritik kebijakan Presiden Joko Widodo terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
“Semakin setuju saya dengan ucapan Romo Magnis, ‘Hanya butuh 2 bulan untuk mengetahui siapa Jokowi.’ Kali ini, saya gagal paham terhadap cara pandang Jokowi tentang KPK. Ia menempatkan lembaga paling sukses dalam menyelamatkan uang rakyat dan menjebloskan para penggarong ke dalam sel ini hanya sebagai Komisi Pencegahan Korupsi (KPK),” ungkap aktivis yang rajin merokok itu.
“Suara apa dan masukan siapa yang dia dengar dalam menentukan pandangan itu? Pasti banyak hal yang ingin diselamatkan dan menyelematkan diri dengan “cara pandang” melawan aspirasi dan suara suci rakyat, pemberi mandat riil sebagai presiden.”
“Hei Bung Jokowi, Anda banyak berkhianat..” ujarnya.
Oleh karena itu, ia mengaku menyatakan istighfar politik atas khilaf politiknya di tahun lalu.
“Selama ini saya alergi munafik, lebih senang hidup lugas dan apa adanya. Karena itu saya akan mencicil untuk nyatakan diri, “istifghfar” politik atas dukungan dan kontribusi mendorong publik memilih Jokowi,” tandas direktur ICRP itu. [sal]