Tidak ada manfaat dan hal baru ketika kita mendengar Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri makin kurang mesra, bahkan semi pecah kongsi.
Bahkan jika relasi keduanya hancur atau koyak moyak, praktik demokrasi liberal kita tetap damai tapi gersang. Mengapa?
Baik buruk hubungan Jokowi-Megawati tetap tidak berdampak nyata bagi kehidupan rakyat kecil yang sudah dicekik neoliberalisme/neokolonialisme ekonomi sejak orde baru Soeharto sampai era reformasi kini.
Ketimpangan struktural menguat, angka koefisien kini menajam, kesenjangan ekonom melebar dan daya beli rakyat makin melemah. Sementara golongan kaya kian kuat dan perkasa, dan golongan miskin kian merana. Di sisi lain, kerusakan lingkungan dan kerusakan sosial makin parah di negeri ini. Negeri ini sejatinya krisis multi dimensi.
Media lebih suka bicara gosip soal relasi Jokowi-Megawati ketimbang bagaimana mewujudkan ekonomi konstitusi, mengatasi kesenjangan , disintegrasi sosial dan ketimpangan struktural di Indonesia yang membuat NKRI menjadi negara gagal di era reformasi.
Media lebih suka mengabarkan bagaimana konflik elite dan harmoni elite, serta mencampakkan cita-cita proklamasi 1945 dan aspirasi bangsa yang adiluhung.
.
Media lebih ribut dan gaduh soal mengapa Jokowi- Megawati tak bertegur sapa kala lebih dari satu jam duduk bersebelahan, dalam Musyawarah Nasional (Munas) II Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) di Diamond Solo Convention Center (DSCC), Jumat (13/2/2015) malam. Apa urusannya?
Jokowi-Mega memang sudah pecah. Tak usah ditangisi. Buktinya: Selama lebih dari satu jam di aula DSCC tersebut, Jokowi dan Megawati hanya berdialog sekali. Dialog itu pun hanya berlangsung kurang dari satu menit. Dialog itu terjadi saat pertunjukan fragmen wayang orang dengan lakon Leburnya Angkara Murka yang dimainkan penari Sanggar Hati Nurani Solo.
Jokowi yang memakai kemeja lengan panjang batik tiba-tiba merebahkan tubuhnya ke kanan dan membisikan sesuatu di telinga Presiden V RI itu. Megawati yang mengenakan kemeja merah berkombinasi hitam hanya menganggukkan kepala. Setelah itu mereka tak bertegur sapa lagi sampai acara pembukaan Munas Hanura itu berakhir.
Bahkan saat didaulat menyampaikan sambutan di Solo itu, Jokowi cukup membungkukkan badan sedikit di hadapan Megawati sebagai ekspresi tubuh meminta izin untuk naik ke podium. Seusai pidato pun, Jokowi kembali membungkukkan badan seperti orang Jepang memberi hormat. Tak ada jabat tangan antara Jokowi dan Megawati selama acara tersebut. Namun, saat ke luar ruangan, Jokowi tak didampingi Megawati lagi.
Perpecahan Jokowi-Megawati itu sudah pasti, dan niscaya terjadi karena chemistry keduanya tidak murni dan tidak bakal abadi, apalagi basis landasannya adalah politik (kepentingan). Akan berbeda kalau basis sosialnya adalah budaya dan keluhuran budi untuk memperbaiki kehidupan berbangsa bernegara yang sudah rusak berat, dan bejat.
Selama relasi Jokowi-Mega berbasis kepentingan politik, maka konflik itu pasti memercik. Namun jika berbasis keluhuran budi dan budaya demi rakyat dan negara dalam upaya mengatasi Neoliberalisme dan neokolonialisme, tentunya Jokowi-Mega tetap satu padu.
Induk kandang Banteng memang sudah kecewa pada Jokowi, sang petugas partai, yang kini menghadapi krisis legitimasi dan tekanan kepentingan dari koalisinya (KIH) sendiri.
Oleh sebab itu, perpecahan Jokowi-Megawati janganlah diratapi dan ditangisi. Biarlah semua berjalan alamiah dan mereka yang memulai, biarlah mereka pula yang mengakhiri. Rakyat butuh kepastian dan harapan, bukan gesekan, konflik dan pertengkaran. Capek sudah rakyat didera demokrasi liberal dan bau sangit kriminal. [inilah]