Tidak ada makan siang gratis. Tampaknya pribahasa itu berlaku di mana saja, termasuk di ranah politik yang abu - abu.
Awal pemerintahan Jokowi dulu pasca di lantik - 20 Okt 2014 - sudah pernah menawari kursi menteri kepada kubu opisisi Koalisi Merah Putih (KMP). Namun dengan cara elegan, KMP melalui para ideolog-nya menolak tawaran "petugas partai" tersebut.
Kini, beredar kabar Jokowi akan melakukan reshuffle kabinet dan - lagi - obral kursi menteri kepada KMP. Uniknya, KMP pun menolaknya, lagi.
"Cuma dengan tegas Pak Ical (Golkar), Pak Prabowo (Gerindra), Pak Anis Matta (PKS) menolak untuk masuk di kabinet. Karena kita sudah menegaskan mendukung pemerintah tetapi di luar sebagai penyeimbang," tegas Sekretaris Fraksi Partai Golkar Bambang Soesatyo seperti di lansir
Inilah.
Tentu saja sikap KMP ini memang patut di apresiasi, karena untuk membangun Indonesia jadi lebih baik, tidak harus mesti berada di pemerintahan. Fungsi kontrol di luar pemerintahan juga sangat di butuhkan posisinya dalam proses transisi demokrasi Indonesia.
Dan, hal ini sekaligus mempertegas, bahwa tuduhan para tukang fitnah yang sebut Prabowo rakus jabatan salah besar. Tapi sudahlah, hal itu memag tidak penting untuk di perdebatkan lagi. Yang penting dan jadi pertanyaan adalah mengapa Jokowi harus membujuk KMP masuk kabinet Kerja?
"Memang Jokowi berusaha merangkul KMP dalam memperkuat posisinya, mungkin saja dalam menghadapi partai pendukungnya terkait polemik KPK-Polri," kata Bambang, kepada wartawan, Jakarta, Sabtu (21/2/2015).
Ya, ternyata betul. Jokowi hanya ingin perkuat kekuasaannya saja. Bukan ketulusan hati Jokowi. Kursi menteri yang di tawarkan ke KMP bukanlah "makan siang gratis". Dan Isu yang berkembang saat ini, Jokowi dan partai pendukungnya sedang tidak harmonis. Kok bisa? Tapi dulu slogan kampanye Pilpres-nya "koalisi tanpa syarat". Lha sekarang? He he.. aksi tipu - tipunya terbongkar dengan sendirinya.
Singkatnya, Jokowi si pengusaha mebel yang - mungkin - biasa dengan mudah jual kursi harus mengalami kesulitan jual dan obral kursi menteri. Apa tidak di ajari Megawati, ya? [pknews]