Tidak susah untuk mengetahui siapa Joko Widodo (Jokowi) sesungguhnya. Tidak lain dan tidak bukan adalah orang yang pro dengan koruptor jika lantik BG jadi Kapolri. Itulah tudingan rakyat bagi yang dukung KPK habis- habisan.
Semua itu karena ulah Jokowi sendiri yang seperti mau lari dari konflik KPK vs Polri, namun tidak bisa. Kini Jokowi terjebak dalam permainannya sendiri. Sikap yang tak jelas membuatnya harus dalam posisi jelas - jelas membingungkan. Lagi - lagi siapa yang jadi korban? Tidak lain dan tidak bukan adalah rakyat yang memilihnya dan yang tidak memilihnya.
Setelah palu praperadilan diayun, Jokowi semakin manyun. Kini, hampir tak ada pilihan kecuali melantik BG sebagai Kapolri. Tidak ada lagi alasan yang cukup untuk melakukan penundaan.
Padahal, Presiden sangat paham bahwa pilihan melantik BG akan membuatnya tidak populer. Bisa-bisa dicap masyarakat sebagai presiden yang tidak pro pemberantasan korupsi.
"Jokowi telah terjebak dalam retorikanya sendiri. Kini, kondisi jauh lebih sulit dari keadaan sebelumnya," ujar M. Aji Surya, dosen komunikasi Tanri Abeng University (TAU), beberapa saat lalu (Selasa, 17/2).
Harus diakui bahwa persepsi sebagian masyarakat menyiratkan dukungannya kepada KPK yang selama ini dianggap kampiun dalam memberantas korupsi. Persepsi Inilah yang dapat menjelma menjadi aksi yang akhirnya bisa menurunkan pamor sang Preaiden.
"Yang muncul di pikiran sebagian orang adalah kecurigaan bahwa presiden sebenarnya melumasi jalan agar KPK dikalahkan," tambahnya.
Namun kalau Jokowi main ulur lagi selama sehari dua hari, dapat dipastikan kepercayaan publik akan merosot tajam. Mau tidak mau, Jokowi harus mengumumkan segera.
Jadi, Jokowi dalam posisi maju kena mundur kena. Dan, tak ada tempat lagi untuk mundur.
Partai pendukungnya, ramai - ramai meminta Jokowi untuk lantik BG. Sedang Tim 9 yang di isi oleh para 'pakar' melalui ketua Syafii Maarif yakin bahwa Jokowi tak bernyali lantik BG. Betapa tak enaknya hidupmu wahai 'petugas partai'. [rmol/pkn]